Perlunya Sebuah Peta

Standard
peta

peta

 

Kali ini, mau berbagi cerita tentang perlunya sebuah peta.. hehehhe oke.. let’s read^^

Suatu hari, para eksekutif muda Skotlandia  pergi berlibur ke pinggir hutan. Mereka berlima sepakat untuk berlibur tanpa keluarga ke tempat yang tenang, sejuk, dan hijau. Dengan asik mereka bercengkrama. Sesekali saling menertawakan betapa bodohnya mereka saat-saat di kantor atau mereka saling ejek atas perilaku lucu mereka terhadap teman-temannya. yang jelas, tampak keceriaan di wajah kelima eksekutif muda itu. Namun, tiba-tiba cuaca menjadi gelap. Angin yang semula sepoi-sepoi berubah menjadi semakin keras. Bahkan, suara guntur diselingi kilat yang menyambar, mulai memekakkan telinga. Titik-titik air hujan mulai turun dan perlahan – lahan berubah menjadi deras.

Tak ayal mereka berebutan mencari tempat berteduh. Mulanya mereka mengambil tempat dibawah pohon besar dekat mereka. Namun, tampaknya tidak cukup untuk berlindung dari hujan yang cukup deras di pohon itu. Mereka pun mulai berlarian mencari tempat berlindung yang lebih baik.

Salah seorang dari eksekutif muda itu “yang paling berani” menemukan gua di tengah hutan dan mengajak para sahabatnya untuk masuk ke gua. Setelah yakin bahwa gua itu aman dari binatang buas atau ular, maka masuklah mereka berlima ke dalam gua itu untuk berteduh.

Hujan turun semakin deras. Mereka pun semakin masuk kedalam gua yang semakin gelap. Mendadak terdengar suara gemuruh. Tiba-tiba pintu gua yang tadinya terbuka lebar tertutup bongkahan batu besar. Dengan terkejut mereka kembali mendekati pintu gua dan berusaha mendorong bongkahan batu keluar. Bersusah payah mereka berupaya membuka pintu gua itu. Nampaknya bongkahan batu besar itu memang terlalu besar untuk dapat didorong oleh tenaga mereka berlima. jangankan terbuka, sedikit pun batu besar itu tidak tergeser.

Semangat untuk membuka pintu gua akhirnya padam. Mereka mencari akal untuk melihat ke dalam gua lebih jauh. Barangkali saja mereka menemukan pintu gua di sisi lainnya. Eksekutif muda ini mulai berpencar dan mencoba mencari jalan keluar. Meski telah dilakukan dengan sungguh-sungguh dan berpencar ke segala arah, namun usaha ini pun gagal.

Berbagai cara lain yang terpikirkan pun terus diupayakan. tetap saja, pintu gua tidak terbuka dan jalan keluar lain juga tidak ditemukan. Akhirnya mereka berkumpul di tengah kelelahan. Mulanya mereka masih mendiskusikan upaya-upaya mencari jalan keluar. Lama-kelamaan mereka mulai saling menyalahkan. Mengapa harus berteduh dalam gua ini . Ada yang mempertanyakan mengapa berlibur ke pinggir hutan. Suasana tidak hanya menjadi suram dan menyedihkan, tapi juga menyiratkan keputus asaan.

Ditengah keputusasaan itu, salah seorang eksekutif muda yang pemberani tiba-tiba berteriak. “lihat, lihat kemari ! ” serunya. ” aku memiliki peta gua ini,” katanya sambil memperlihatkan kertas seperti peta yang ada di tangannya. Dengan penuh keyakinan pemuda ini menunjukan peta yang di pegangnya kepada keempat kawannya yan lain.

Suasana pun menjadi ramai. ” Mana, mana aku mau lihat ! ” kata pemuda penakut yang sejak tadi hanya menangis. ” sudah, yang penting mari kita baca peta itu,” sambut pemuda yang lain. Mereka berkerumun melihat peta yang ada di tangan si pemberani.

Beberapa saat kemudian, mereka berdiskusi berusaha menafsirkan peta yang ada. Dengan keyakinan kuat mereka mulai menelusuri petunjuk dalam peta itu. para eksekutif muda itu berjalan perlahan-lahan dengan keyakinan yang mantap dan perasaan gembira mengikuti arah peta. Dengan beberapa kali kesalahan dan langkah-langkah memutar, akhirnya mereka menemukan pintu lain dari gua itu. Udara di luarpun sudah terang dan huna telah berhenti.

Dengan gembira mereka mengangkat beramai-ramai si pemilik peta. Beruntunglah mereka. Coba kalau si Pemberani tidak memiliki peta itu, niscaya mereka akan terkurung dalam gua dan mati kelaparn. Semakin mereka mengingat keadaan mereka di dalam gua semakin gembiralah mereka.

Si pemilik peta tiba-tiba tergerak melihat kembali peta yang tadi mereka gunakan. Ia terkejut, karena peta itu, ketika dibaca di luar gua yang terang, hanyalah foto keluarganya yang basah terkena air hujan, sehingga tampak sebuah peta. Itu bukan peta, hanya foto yang basah dan luntur yang terlihat seperti peta. Ketika si pemberani menunjukkan foto itu kepada keempat kawannya, mereka semua tertegun bingung. Mereka termenung lama. Meski akhirnya tetap pulan dengan bergembira.~

Sengaja aku nge-share cerita ini. Cerita ini aku ambil dari salah satu cerita dari buku kesukaan aku yang di karang oleh DR. Mulyanto dalam buku “kisah-kisah teladan untuk keluarga”. Nah dari cerita ini, sebenarnya manfaat yang dapat di ambil itu adalah belajar untuk yakin! dengan mempunyai keyakinan hal sesulit apapun dapat kita lalui dengan baik^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s